:::: MENU ::::

Cerita Cinta Menyedihkan, Drama Tari Menak “Kasetyan Jati”

Kali ini saya berkesempatan untuk hadir dalam acara peringatan 100 tahun Sri Sultah Hamengku Buwana IX yang diselenggarakan oleh Pemerintah DIY bekerja sama dengan Forum Komunikasi Seni FSP ISI Yogyakarta, SMKI dan YPBSM di Bangsal Kepatihan pada malam 1 Suro kemarin (14 November 2012).  Dalam acara ini ditampilkan sebuah drama tari “Kasetyan Jati”.  Tari “Kasetyan Jati” sendiri merupakan karya Sri Sultan Hamengku Buwana IX.

Setelah mengisi buku tamu yang sebenarnya saya sendiri cuma di ajak oleh teman, kami langsung mencari tempat duduk yang telah di sediakan mengelilingi Bangsal Kepatihan.  Ternyata tingkat keberuntungan kami masih minim.  Kami mendapat tempat duduk yang kurang sip untuk ambil gambar karena berada di bagian belakang, sehingga bisa dibilang “ndelok geger” (lihat punggung).  Acara ini dimulai pada pukul 19.00 .  Sebelum pementasan tari “Kasetyan Jati” dimulai, acara diawali dengan pertunjukan wayang golek.  Untuk cerita secara keseluruhan saya sendiri kurang begitu mengikuti.  Agar lebih jelasnya saya kopi saja artikel dari jogjanews.com.

Pertunjukan Wayang Golek

Pertunjukan Wayang Golek

Drama Tari Menak “Kasetyan Jati” merupakan Beksan Golek Menak ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwana IX, yang mengisahkan pertempuran antara dua putri yaitu Dewi Adaninggar dari kerajaan Cina dan Dewi Kelaswara dari kerajaan Kelan. Dua putri kerajaan ini terlibat cinta segitiga dengan seorang Raja Koparman bernama Prabu Jayengrana.

Para Penari yang Berperan Sebagai Tentara Cina

Para Penari yang Berperan Sebagai Tentara Cina

Dewi Adaninggar yang datang dari Cina berniat untuk mendapatkan Prabu Jayengrana untuk dijadikan suami, tetapi cintanya ditolak oleh Prabu Jayengrana. Kemudian yang membuat Dewi Adaninggar menjadi murka adalah Prabu Jayengrana menikahi Dewi Kelaswara dari kerajaan Kelan.

Dewi Adaninggar

Dewi Adaninggar

Ketika pada malam pertama, Dewi Adaninggar menyusup kekamar peraduan Prabu Jayengrana dan Dewi Kelaswara yang sedang berpelukan dan dengan kesaktiannya keduanya dilepaskan dari posisi berpelukan.

Prabu Jayengrana dan Dewi Kelaswara dalam peraduan

Prabu Jayengrana dan Dewi Kelaswara dalam peraduan

Dewi Kelaswara terkejut dan berteriak kemudian mengejar Dewi Adaninggar yang berlari menuju halaman keputren, peperangan antara keduanya pun terjadi. Keduanya memiliki kesaktian, cukup lama mereka berperang, berperang dengan tangan kosong, dengan sejata keris dan panah.

Dewi Kelaswara

Dewi Kelaswara

Karena kesaktian Dewi Kelaswara lebih unggul maka Dewi Adaninggar semakin lama semakin terdesak dan akhirnya terkena panah sakti Dewi Kelaswara. Dewi Adaninggar terjerembab di tanah sambil menangis pilu menahan sakit seraya menyebut-nyebut nama Prabu Jayengrana.

Prabu Jayengrana tiba-tiba muncul dari dalam dan segera meraih tubuh Dewi Adaninggar yang terluka dan diletakkan dipangkuannya.

Dewi Adaninggar yang terluka setelah berperang melawan Dewi Kelaswara

Dewi Adaninggar yang terluka setelah berperang melawan Dewi Kelaswara

Hati Prabu Jayengrana menjadi gusar, terharu dan amat mengagumi kedua prajurit putri yang sama-sama memiliki kesaktian dalam berperang. Dewi Adaninggar ternyata masih hidup, walau dengan nafas tersengal-sengal. Sesaat dua pasang mata beradu pandang dan kemudian nafas Dewi Adaninggar berhenti, maka gugurlah Sang Putri Cina Dewi Adaninggar.

Prabu Jayengrana menyesali kematian Dewi Adaninggar karena sesungguhnya didalam hatinya juga mengasihi dan mencintai Putri Cina ini. Kemudian berita kematian Dewi Adaninggar sampai ke Negeri Cina.

Untuk masalah gambar, mohon maaf ya, lagi belajar make lensa panjang full manual ya begitulah adanya 😀

kalo ada komentar, kritik, saran atau melengkapi informasi silakan langsung komen dibawah saja..^^


So, what do you think ?